Posted by: arydwantara on: April 4, 2008
Seorang teman (sebut saja namanya Ade) curhat kepada saya bahwa dia tidak suka bercerita lama2 lewat telepon, apalagi itu di malam hari. Sayangnya karena kesibukan, dia harus melakukan ritual itu
Ade mengaku bahwa dia sering tertangkap basah oleh pasangan nya saat dia tidak menyimak obrolan kekasihnya itu, tidak heran pertengkaran sering terjadi.
Enggak sekali dua kali kebiasaan jelek Ade itu muncul. Pernah suatu saat karena saking ngantuknya dia sempat tidur untuk beberapa detik saat kekasihnya sedang menelpon (untung hpnya masih tipe lama coba kalau 3G bisa Gawat Gawat dan Gawat).
Di temani sebungkus rokok dan dan segelas kopi pahit, obrolan kami mengalir, pernah juga kata Ade, pacarnya protes bahwa dia sering merasa di cuekin saat di telepon, Ade merasa bersalah, dan sepertinya kekasihnya bisa melihat wajahnya yang merah padam menahan malu, sebab semua yang di sampaikan oleh kekasihnya memang benar adanya.Untuk menghilang kan kebiasaan buruknya itu ade menemukan solusi, dia akan jauh dari tempat tidur saat menelpon dan sebisa mungkin akan berdiri saat berbicara di telpon. Ade mengakui kesalahannya dan berjanji akan merubah kebiasaan jeleknya itu, walau sebenarnya dia tidak tahu harus berubah dari mana, lucunya sejak saat itu, kata Ade, acara menelpon seperti ajang interogasi karena setiap akhir opini pasti di tutup dengan pertanyaan ”kamu nyimak ndak?”, tentu dengan penuh semangat Ade menjawab “iya donk” padahal dalam hatinya Belum Tentu.
Satu lagi sifat jelek yang si Ade bilang ke saya, bahwa dia itu orang nya cuek bangets, dia tidak sadar bahwa pacarnya butuh perhatian walaupun dalam hal2 yang kecil sekalipun. Entah kenapa, menurut Ade, dalam urusan pacaran otaknya benar2 BLANK. Saya jadi teringat omongan pacar saya “Hal2 yang kecil bisa menjadi besar kalau dilakukan dengan tulus dan usaha extra, persoalan kecil akan menumpuk dan bisa menjadi masalah besar” makasi ya gek..dah mau nasehatin ick….
Sayang, hubungan si Ade dengan kekasihnya sekarang udah berakhir, sebelum dia mampu nunjukin hasil perubahannya secara maksimal. (mungkin si gadis dah bosan nungguin) dan Ade pun menunduk lesu saat saya mencoba melihat raut wajahnya….tampaknya dia menyadari ke terlambatannya untuk sadar, harusnya dia lebih kreatif dalam memberikan perhatian, meski lewat hal yang kecil. Niat untuk berubah saja belum cukup, proses perubahan kadang menyita banyak energi, apalagi perubahan itu di minta oleh orang lain, bukan dari kita sendiri.
Satu hal yang dapat saya ambil dari curhatnya si Ade yaitu permintaan untuk berubah seharusnya bukan semata2 berasal dari satu pihak. Baik kita maupun kekasih kita, harus memandang bahwa upaya masing2 untuk berubah adalah tanggung jawab bersama.
saya juga ga demen nelpon di hape lama-lama,,kuping rasanya panas,,,btw ngakak saya baca yang ‘tertidur waktu ditelpon pacarnya’ itu,,,heheheh
” dasar..tertawa diatas penderitaan orang lain…hikz..hikz..hikz…”
ketika kita menuntut orang lain untuk berubah sering kali akan diikuti dengan derita. akan jauh lebih baik bila kita berubah dari diri sendiri.
salam kenal juga bli…
#1.betul itu bli…biar ndak ada yang namanya pemaksaan kehendak….
#2.yo’i…keep bloging….
ada apa dengan ungkapan “terimalah apa adanya”?
“ad apa yah?……jangan terlalu sensi bli…..hi..hi..hi…lagi dapet yah?”
setuju bli… untuk berubah itu butuh proses dan waktu… mestinya sang pacar jangan minta perubahan yang instan tapi juga bersama2 dalam proses perubahan itu… kasian deh si Ade… tapi dunia tak selebar daun kelor de… masih banyak cewek lain di luar… hunting dulu gih…
ade said: “siap, berangkat!!!!!”
April 4, 2008 at 6:52 am
wadu wadu
kok sama seperti saia
d tlp malah ketiduran
dan buntut2nya betngkar deh
“coba ikutin tipsnya bli yang: kalau nelpon mesti jauh2 dari kasur dan sebisa mungkin berdiri itu, kali aja mempan…”