Urab Daun Anthurium
“GILA…! Masa pohon gitu aja harganya seratus juta! Huuuuh…gue, sih,mending duitnya dibeliin mobil Kijang!” bisik seorang teman, menggeleng-gelengkan kepala, sambil matanya terus menatap pot plastic besar berisi tanaman anthurium jenis jenmanii, dengan daun-daun kokoh lebar dan hijau tumbuh memenuhi permukaannya. Itu terjadi beberapa waktu lalu, di sebuah stan Pameran Flora & Fauna yang berlangsung di Lapangan Banteng, Jakarta.
“kagak ada ruginya you beli ini koleksi. Umurnya sudah lebih dari 20 tahun. Cukup langka untuk jenisnya. Sudah jadi, dan sangat menjanjikan keuntungan riil. Daripada invest dana produk sekuritas atau property, mending you invest ke bisnis anthurium. Lihat kembangnya, ada lima bonggol berisi penuh biji masak. Sebonggol paling nggak berisi seratus biji. You tahu, untuk jenis jenmanni red beauty ini, bijinya aja Rp 2.500 per biji. Tapi, jangan jual bijinya. Lebih baik biji disemai di pot-pot pembibitan. Pohon bibit berumur 2-3 bulan, dengan 3-4 daun aja… harganya kagak kurang dari Rp 50.000 per pot.”
Teman saya makin melongo mendengar cerita wanita muda pemilik kios nursery itu. Lebih melongo lagi ketika beberapa hari kemudian saya mengabarkan kepadanya bahwa jenmanni red beauty tersebut benar-benar dibeli seorang kolektor dari Jawa Tengah dengan harga RP 100 juta. Cash!
“Gilaaa! Kok, ada ya, orang gokil yang mau-maunya buang duit sebanyak itu, Cuma untuk pohon yang mirip pohon tembakau itu?” begitu, lagi-lagi, komentar teman saya.
Kalau dipikir-pikir, bisnis tanaman hias Indonesian akhir-akhir ini, khususnya menyangkut jenis anthurium daun, memang seperti cerita fiksi. Betapa tidak! Harga tanaman dalam pot dengan tinggi tak sampai 30 cm saja, harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Harga Rp 100 juta seperti disebut di atas bukan yang termahal. Ada kolektor rela menjual mobil terbarunya demi tiga pot anthurium. “Coba hitung, berapa porsi steak sapi bumbu lada hitam yang bisa dibeli dari duit itu?” lagi-lagi, komentar iseng teman saya.
Pernah dengar kata ‘gelombang cinta’? jangan salah sangka, itu bukan judul film, judul lagu, ataupun judul novel. Gelombang cinta di sini juga tak ada kaitannya dengan gelombang cinta Anda pada kekasih, apalagi dengan gelombang Tsunami yang menghantui warga pesisir Jawa dan Sumatra yang dekat denga gugus Gunung Krakatau! Gelombang cinta yang dimaksud tak lain adalah salah satu sub-jenis anthurium yang banyak dicari orang saat ini. Daunnya aga memanjang dan bergelombang. Makin banyak gelombangnya, makin mahal harganya. Tak jelas, kenapa orang lantas menambahinya dengan kata ‘cinta’?
Harganya? Bisa mencapai ratusan juta rupiah. Sebuah majalah tanaman sempat memberitakan kisah seorang pengusaha di Jawa Tengah yang dengan ringan mengeluarkan kocek sebesar Rp 3 M untuk 4 pot berisi anthurium jenis tersebut. Coba, apa namanya jika bukan bagaikan mimpi.
Dengan daun mirip daun tembakau, berpenampang lebar dan kokoh, anthuriium terbagi dalam berbagai kelas. Ada kelas yang disebut giant yang daunnya lebar mengarah ke atas, kelas brazil yang daunnya juga lebar tapi dalam posisi rebah (tidur), kobra yang mirip ‘patukan’ ular kobra, garuda yang seperti sayap burung, dan banyak lagi penamaan yang muncul begitu saja di kalangan pecinta tanaman.
Kisah-kisah menyangkut kepemilikan anthurium kerap membuat geleng-geleng kepala tak percaya. Ada kisah wanita muda yang mendadak saja benci pada kupu-kupu. Sampai-sampai ia rela membayar dobel gaji tukang kebun di rumahnya, dengan job tambahan: mengusir tiap kupu-kupu yang melintas di halaman rumahnya yang luas. Jangan sampai kupu-kupu cantik hinggap di pot gelombang cintanya, karena ia pasti hinggap cuma untuk bertelur. Telur yang segera menjadi ulat, dan akan melalap habis daun-daun anthurium berharga jutaan rupiah yang dikoleksinya, dalam tempo semalam.
Yang pasti, umunya kolektor merawat dan memperlakukan koleksinya itu memang sepenuh cinta. “Ia bisa dengan gampang bersikap cuek pada kita, istrinya, kalau sudah ada di dekat tanaman kesayangannya itu,” kisah seorang wanita, dalam sebuah seminar.
Pernah dengar, menu nasi urap seharga dua ekor sapi? Jangan heran, ini sungguh terjadi di sebuah kota di Jawa Tengah. Tanpa sepengetahuan sang istri, seorang suami menjual kedua hewan produktif penghasil susu segar milik keluarga untuk dibelikan beberapa pot gelombang cinta. Siapa tak menjadi jengkel? Karena kesal, si istri mengolah daun-daun anthurium itu menjadi urap, dan menghidangkannya pada suaminya saat jam makan siang. Bisa ditebak! Betapa kalap si suami..!!



ane pernah tak jadiin jukut cantok, utik2 tapi… hahahahaa
“saya juga gunk….plecing….wa..ka..ka…”
si suami dan istri tuh penuh komunikasi kaleeee….
“may be….”
wah iya ya,,duit jadi daun,daun jadi duit,,jaman yang aneh,,tapi saya sendiri ndak tertarik bisnis begituan,lebih enak juga nyari duit di internet.,..kekekekkeke
“lebih banyak dapetnya….iya kan mbak ika?”
100 jeti..???
mending uang itu disumbangin untuk korban Muntaber dikarangasem ya bro..!! (ngarep)
GILLLAAAA..ckckckckckkckk
“itulah kenyataan bli….”
di negara kita emang aneh, daun jadi rebutan (n kata mereka para penghobi (web penghobi anthurium), ini merupakan ujud dari ramalan jayabaya bahwa suatu saat selembar daun akan berharga mahal)………tapi biasanya hanya gebyar sesaat, n’yang untung pasti yang pemodal besar karena mrk sengaja bikin heboh hanya untuk kepentingan bisnis segelintir orang…
“o..ada ramalan nya yah? emang sieh kalau udah di bilang bawa hokky pasti langsung top cer…”
ehh.. dirumah ada tuh gelombang cintah..
mau nawar berapa.??
he.he..
“ bli tiyang punya yang lebih dahsyat…gelombang tsunami….barteran yuk? ”
gak habis fikir sama tuh taneman, dulu2 kemana aja ya???kok baru sekarang terdengar…
” mungkin dulu belom ada yang ngegosipin sekencang sekarang, jadinya telat dech…”
berarti benar kata-kata nenek jaman dulu
cucu: “nek, minta duit nek”
nenek: “emangnya duit itu daun yang tinggal petik”
>>si nenek ga tau kalau jaman sekarang duit bisa menjadi daun dan sebaliknya,,hehehe
“wa..ka..ka..ka…dasar…….”
pohon 100 jt? daunnya emas?
gile bener
“iya bli…beneran gila…tapi kayaknya mereka ketipu dech ama si pembuat gosip” :0
ahaha..
gw tau tu. nyokap gw jualan begituan..makanya tiap kali pulang gw pusing liat tu taneman2..heran yah. jaman sekarang bisa beli mobil pake daun.
“kalau di balik..beli daun pake mobil…bisa ndak?
pst..pst…ada bibitnya satu ndak? tanya ke nyokap lo dunkz?”
wah ikutan bisnis anthurium neh kayak si joshua
“ndak boleh milu2 tuwung bli…”
aku punya kembang anthurium, harganya normal di sini, nggak mahal2 amat … gila sampai jutaan gitu di sana harganya ya ? lha kalau mati apa ndak gulung2 tuh pemiliknya ?
“wa..ka..ka…tapi emang gitu trendnya…”
Maaf ini opini saya yang bukan penghobi, menurut saya sich ini cuma akal-akalan orang-orang “lihai” aja, sama kayak trend2 yang dulu, setelah sekian lama trendnya pasti hilang…
Coba inget trend Adenium sampai ikan Lohan, dengan bumbu-bumbu cerita seru nan heboh masyarakat berburu sampai menghabiskan semua yang dimiliki, maka beberapa orang meraup keuntungan milyaran, …sebuah skenario bisnis..
Seharusnya jaman kayak gini kita mesti jeli dan bijaksana …!
” bener..bener…[sesama bukan penghobi] ternyata punya pikiran sama, bisa aja besok daun “JARAK” yang jadi trend…mungkin bisa trilyunan harganya…wa..ka..ka..ka…”
kalau boleh usul….ibu yang bikin urab daun anthurium nanti pas bapaknya mau ke WC diikutin aja sekalian cek tuh closet kali aja yang keluar uang he.he.he.
“wa..ka..ka….bener tuh boz….[itulah yang dinamakan uang kotor...] ke..ke…ke…
“