Hikayat Pan Lumbang


Pan Lumbang marah2 setelah membaca harian kota pagi ini. Dia mengaku marah dan kesal karena mengaku di bohongi mentah2 oleh presiden yang dia pilih dengan bangga dahulu. Presiden yang berjanji akan melakukan perubahan dalam seratus hari kepemimpinannya. Presiden yang pandai bernyanyi lagu “pelangi dimatamu” saat kampanye dulu, dan presiden yang [katanya] memihak wong cilik yang ndak bakalan menaikkan harga BBM, Sembako,dan segala tetek bengeknya.

Namun sekarang, Pan Lumbang cuman bisa duduk terdiam sambil matanya menerewang, sambil berpikir bagaimana nasib bangsa ini ke depannya saat harga minyak sudah mulai di naikkan oleh pemerintah. Teringat dia akan slogan sang presiden dulu… “ bersatu kita bisa” [bisa apa pak?...bisa mati…bisa hancur…atau bisa ular?] (more…)

“Bangsa ini penuh dengan omong kosong” umpat Pan Lumbang dengan sinisnya.

“Ketika banyak orang tak mampu membeli sembako, justru barang mewah yang membanjiri negeri ini kian laris, antrean orang beli minyak tanah, BBM dan raskin seakan 2 menjadi pemandangan yang lumrah. Diimbangi dibangunnya banyak supermarket, mall, café, dan SPBU. Konversi minyak tanah ke gas di kumandangkan, tetapi suplainya tersendat2 dan minyak tanah seakan menghilang, istriku semakin menjerit karena ndak bisa memasak bahan makanan yang bisa terbeli dengan susah payah. Namun di televisi hampir tiap hari wajah Eko “F*ck’n” Patrio terlihat membagi- bagikan uang jutaan rupiah. Bencana akibat ulah manusia dan alam seakan tidak pernah capek mendera bangsa kita, namun hura2 dan pesta pora juga seakan tidak pernah berhenti di negeri ini, apalagi kalau sudah bertitel IDOL2 an dan BINTANG2 an…pasti LARIS MANIS…” cerocos Pan Lumbang tiada henti. (more…)