100 tahun kebangkitan nasional

merdeka.jpgKita semua tahu bahwa kebangkitan nasional tahun 1908 yang di koordinir oleh para pemuda pada masa itu, khususnya para dokter yang tergabung dalam Budi Utomo, adalah kebangkitan atau kesadaran dalam bidang politik. Mereka sadar bahwa kita sudah harus “merekayasa” tentang kemerdekaan  bangsa Indonesia dari tangan penjajah Belanda .

Kemudian dilanjutkan oleh gerakan para pemuda di tahun 1928, yang terkenal dengan “sumpah pemuda”. Klimaksnya adalah proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945 oleh Soekarno-Hatta.

Setelah 63 tahun Indonesia merdeka, dengan melalui gejolak serta rintangan-rintangan, baik itu pada jaman orde lama, orde baru, dan orde reformasi sekarang ini, terbersit dalam benak saya bagaimana keadaan bangsa ini ketimbang dengan negara-negara tetangga yang usianya jauh lebih muda dari kita, seperti India, Malaysia, Singapura, dan Vietnam. Kenyataannya Indonesia masih sangat memprihatinkan. Apalagi kalau kita lihat masih lebih dari 40 juta rakyat kita yang hidup di bawah garis kemiskinan. Masih ada rakyat yang mati karena kelaparan, bayi mati karena gizi buruk, dan lain sebagainya.

Tiap hari kita mendengar, membaca, berbagai pihak mengecam dan memprotes lembaga Negara baik itu legislative, yudikatif dan exsekutif. Tetapi kita rasanya telah lupa bahwa yang memilih mereka itu adalah kita (rakyat) juga, asal mereka dari kita (rakyat), artinya kelakuan mereka adalah cermin dari kita (rakyat Indonesia)

Oleh karena itu yang harus di perbaiki adalah mental dan budaya bangsa Indonesia. Kita boleh saja (bahkan harus) terus memprotes, menuntut perbaikan kepada para pemimpin atau kepada para elit sebagai sarana perjuangan. Namun berbarengan dengan itu kita juga harus berjuang dalam memperbaiki mental dan budaya kita. Sebab kalau tidak, jika para pemimpin dan para elite diganti, penggantinya akan sama dengan yang diganti.

Maka dari itu, marilah peringatan 100 tahun kebangkitan nasional, kita  jadikan momen untuk kebangkitan nasional II. Kalau kebangkitan nasional I pada tahun 1908, bangsa Indonesia bangkit dalm bidang politik, kebangkitan nasional II tahun 2008, rakyat (bangsa) Indonesia bangkit dalam bidang mental dan budaya.

Mari kita kobarkan revolusi mental dan budaya agar rakyat Indonesia bebas dari “penjajahan yang bersifat kepribadian negative