JAMULIPAT

Kalau sedang ngayah (baca:gotong rotong di banjar) baiknya ngomongin urusan yang ringan-ringan saja dan jangan membicarakan topik yang berat-berat, seperti urusan selingkuh1.jpgpolitik, preman, dan segala isi dunia.

Kalau topiknya serius, bisa-bisa kerjaan di banjar tidak selesai dan kemungkinan bisa bertengkar, kalau bertengkar sambil membawa blakas (parang) bisa-bisa tangan teman yang menjadi lawar.

Itulah sebabnya kalau sedang mebat (baca: mengolah makanan) saat sedang metulungan (berpartisipasi saat ada kegiatan upacara adat), krama (baca:orang) bali banyak yang membahas topik yang ringan-ringan saja, bukan urusan yang tinggi-tinggi, namun urusan orang bawah, semakin bawah semakin bagus, semakin hot, asli membuat bulu roma berdiri (apalagi bulu yang lainnya)

“Sudah mendengar I made seger masuk rumah sakit? Dia ketahuan selingkuh dengan jamulipat (janda muda lihai pantat) si dagang kopi baru di sudut desa. Setelah ketahuan selingkuh, dia lantas di banting oleh suami si jamulipat. Sekarang dia menginap di rumah sakit seminggu” begitu kata si Nyoman renteg.

Sumringah krama tempekan (baca: RT) tertawa mendengar informasi itu. Kalau memang urusan teman ketahuan selingkuh memang tidak ada sedikitpun rasa solidaritas warga untuk care, bukan karena anti selingkuh tetapi banyak yang iri karena diam-diam banyak juga yang naksir si jamulipat. Dari yang tidak bisa minum kopi, bisa datang setiap sore kesana. Tapi memang kumis si Made seger yang paling top cer, hanya dia yang bisa mendapatkan kopi si jamulipat pagi sampai malam.

“Apanya si Made yang sakit? Katanya dia punya ilmu kebal? Tapi kenapa di banting sama cewek langsung UGD?” tanya Wayan saru. Sontak semua warga tertawa, karena semua tahu yang kena banting adalah kantong menyan si Made, sebagaimana pun ilmu kekebalan yang di miliki, tidak akan bisa mengebalkan area kantung menyan.

“Sepertinya sekarang warga gembira karena saingannya sudah masuk rumah sakit, pasti nanti banyak warga yang nongkrong di warung kopi si jamu lipat” Wayan saru melanjutkan ulasannya. “Itu namanya kompetisi yang sehat Yan, kalau si Made kan sudah ada yang mengurusi di rumah sakit, sedangkan sekarang yang harus di pikirin yaitu si dagang kopi, karena ia kesepian di tinggal oleh si Made. Kalau ada perempuan yang kesepian memang tugas kita sebagai laki-laki yang melindungi, maksud saya memberi lindung (baca :belut)”, Ketut tongos menimpali sambil tertawa lebar-lebar. “Apalagi sekarang sudah biasa orang untuk selingkuh. Belum menikah saja sudah pintar selingkuh apalagi nanti kalau sudah menikah, kalau sudah menikah bertahun-tahun pasti pernah saja merasa bosan dengan pasangan sendiri, kalu sudah bosan perlu selingan, nah kalau sudah dapat selingan, pasti akan hilang rasa bosan tersebut, setelah itu pasangan kita pasti terlihat cantik atau ganteng lagi. Kalau setiap hari selalu di suguhi teh boleh dong sekali-sekali coba minum kopi?. Artinya selingkuh itu perlu untuk meningkatkan kerukunan dan kelestarian rumah tangga” lanjut Ketut tongos berteori. “Selain itu selingkuh juga penting untuk perbaikan karir,” Putu lengis yang sedari tadi Cuma menyimak ikut angkat bicara. “ Kalau di kantor-kantor pemerintahan atau kantor besar, sudah rahasia umum bila yang cantik dan ganteng di jadikan teman BCA ( bobok ciang Ah..) oleh para bosnya. Kalau mau seperti itu, posisi yang bagus bisa di tangan, otomatis fasilitas wah bertambah. Itu pasalnya, jangan terlalu kaget jika kita melihat karyawati cantik, berkesan mewah, bermobil, posisi bagus, tapi dia tidak tahu apa-apa. Yang seperti ini jalur karirnya berbeda, ‘jalur basah ‘ namanya”, Putu lengis semangat mengomentari. “Wah sekarang ilmu untuk selingkuh sudah berkembang, dari yang dulunya cuman untuk obat di kala bosan, sekarang sudah berkembang ke jalur karir” Pak klian (kepala banjar) menengahi. “Sejujurnya ada juga yang lainnya, ada yang selingkuh karena memang sudah jatuh cinta, sudah saling sayang dengan pasangan tak resminya,” tambah Putu lengis. “Wah kalau seperti itu jatuh cinta namanya Tu, cinta sejati namanya, tidak masuk sub bab selingkuh, yang seperti itu,” Pak klian membantah.

“Tapi kalau yang pria atau yang wanita sudah sama-sama memiliki pasangan resmi tetapi mereka saling merasa cocok dan saling melengkapi, tanpa ada urusan dengan rasa bosan, karir dan lain sebagainya, selingkuh tipe apa namanya itu?,” tanya Pan coblang.

Krama banjar tidak ada yang berani menjawab,semua sepi, karena ibu-ibu PKK datang membawakan kopi dan jajanan. Karena memang (hukumnya) saat ada istri, tidak patut untuk membicarakan urusan selingkuh. Sontak hanya suara talenan (alas yang di pakai mengolah adonan) saja yang terdengar riuh.