Anakku bukan milikku lagi…

Hari demi hari setelah Anis pergi, kepada setiap sahabat yang mengucapkan bela sungkawa, Era (sebut saja namanya begitu) sahabat ku selalu mengingatkan untuk segera mengecek kadar trombosit dalam darah jika terjadi demam yang tak kunjung turun. Hal ini adalah pengungkapan kekesalan Era pada dirinya sendiri yang harus kehilangan Anis putri tercintanya. (Karena demam berdarah) Penyesalan yang membawanya dalam kesedihan yang tak ber ujung.

Minggu demi minggu, kepergian Anis masih membuatnya pilu, tujuh hari pertama dia selalu mengunjungi makam Anis. “untuk sekedar bertutur sapa” katanya, saat secara tidak sengaja tiyang melihatnya pada waktu munjungin (baca: menjenguk nenek) yang kebetulan makamnya tidak jauh dari makam Anis. Pernah dia berujar pada tiyang bahwa makam ini akan menjadi rumah keduanya kelak.

Di rumah, (menurut pengakuan pembantunya) hampir tiap malam dia menangis tersedu sedu di pelukan suaminya. Dia marah, dan selalu berucap “why me….?”. Dia tak berdaya, ucapan duka cita dari segenap kerabat dan teman2 hanya mampu mendinginkan dia sesaat. Namun semua itu tidak mampu menghalau kepedihan hatinya. Nasihat dari teman2 hanya dia balas dengan anggukan kepala tanpa pernah tahu apa artinya.

Suatu hari dia bercerita dengan tiyang, dia lebih baik memilih Anis kembali ke pelukannya (setelah koma) walaupun dengan cacat sekalipun, dia akan menganggap sebagai cobaan hidup dan berjanji akan merawatnya dengan sebaik baiknya, seperti janjinya dulu ketika melahirkan Anis. Namun kini Anis telah pergi, “Anakku bukan milikku lagi”, bisiknya dengan derai air mata.

Kini, Era telah pasrah menerima takdirnya sambil terus meminta tuhan agar membantu sampai dia mengerti. Meski rasanya tidak punya energi lagi, tapi dia berjanji kepada tiyang bahwa dia akan meneruskan hidupnya berteman dengan kenangan indah dan abadi tentang Anis, malaikat kecilnya.