Petani…nasibmu kini…

Selama bertahun2 petani menjadi kelompok yang terpinggirkan di Negara kita ini. Petani ibarat kertas tisu yang habis di pakai di buang…dicampakkan begitu saja. Terpinggirkan dalam penguasaan factor produksi dan tidak memiliki akses ke pusat kekuasaan. Petani sangat di butuhkan dan di sanjung apabila kita telah merasa kekurangan stock beras, tetapi setelah itu petani tak ada yang mengurus. Habis manis sepah di buang [di injak2 malahan].

Petani memang selalu sebagai korban kebijakan dari pemerintah. Petani harus membeli pupuk, pestisida, dll dengan harga yang sangat mahal akan tetapi di saat panen, produk yang melimpah tak terbeli, dan bisa kita bayangkan berapa kerugian petani karena harga gabah mereka di hargai amat sangat murah.

Air mata para petani tampaknya sudah kering. Dimana suara elite politik [dulu] yang berjanji akan mengangkat harkat dan martabat para petani? Kemanakah para petani harus mengadu? Janganlah kita beranggapan bahwa petani itu orang kecil maka keadaanya tidak dianggap ada oleh Negara [antara ada dan tiada].

Para petani mengaku harus menyerah dengan tawaran harga padi yang rendah ketika masa panennya tiba. Di tambah lagi persoalan pengairan yang di rasa sangat kurang. Kita mesti melihat kenyataan bahwa sebagian besar daerah pertanian beralih fungsi menjadi pertokoan ataupun industri.

Sepertinya para petani merasa bosan mengeluh akan kenyataan, bahkan mereka cenderung terlena akan nostalgia sepuluh atau lima belas tahun yang lalu dimana mereka masih bisa menjual harga panennya dengan cukup layak dan harga pupuk yang masih murah.

Kini saatnya kita semakin memperhatikan masalah petani, dan hendaknya para kontestan pilgub bali 1 nanti memikirkan petani, jangan hanya memberikan mereka uang saat kampanye sebagai wujud kepedulian terhadap mereka [politik praktis]. Tetapi pikirkan juga, bagaimana mereka ke depannya, masalah pupuk, pengairan, dan segala tetek bengek lainnya. Akan sangat berbahagia pula para petani jika mereka di bebaskan dari membayar pajak tanah dan bangunan. Karena tidak dapat di pungkiri letak persawahan kini banyak berada di sepintas jalan by pass yang tentunya biaya untuk pajak sangat besar. Jika apa bila tidak bisa membebaskan mereka dari biaya pajak yang tinggi itu minimal di turunkan [menjadi setengah harga]. Niscaya plang papan bertuliskan “TANAH INI DI JUAL HUB: 08108208010” akan hilang dan para petani kembali bersemangat menanami sawahnya [walau hasilnya tidak seberapa]. Setidaknya ini menunjukkan adanya kepedulian pemerintah terhadap nasib para petani. Mari kita lihat apakah nasib para petani akan berubah seiring berubahnya era ke pemimpinan di bali kedepannya. Atau tetap saja yang kaya tambah kaya sedangkan yang miskin semakin melarat.