Maju tak gentar membela yang BAYAR…

Alkisah suatu hari di desa kamaku, di serang oleh gerombolan tikus, yang menyebabkan penduduknya merasa ketakutan. Karena selain menyerang stock makanan dan pakaian mereka, sang tikus juga menggerogoti tubuh mereka saat tertidur. Penduduk desa lalu memohon kepada sang pencipta agar hama tikus itu bisa di hilangkan.

Suatu hari [entah dari mana asalnya] muncul seorang pria yang mengatakan bisa menghilangkan semua tikus yang ada di desa itu, maka di mulailah ritual pengusiran tikus itu, sang pemuda pergi ke sebuah bukit yang tinggi dan mulai meniupkan serulingnya. Ajaib, tikus 2 itu mulai terhipnotis akan indahnya suara seruling yang di tiupkan oleh pemuda tersebut, dan para tikus berbaris mengikuti sang pemuda menuju pantai dan hilang entah kemana….sejak itulah penduduk desa kembali tenang menjalankan kehidupannya.

Walaupun sudah beberapa tahun berlalu, tapi cerita itu sungguh berkena dalam hati saya, bukan saja karena ceritanya penuh makna tapi juga saya teringat akan tamparan dan jeweran bila tidak bisa membaca dengan benar teks berbahasa inggris itu. Ya…guru bahasa inggris dan juga wali kelas saya itu memang terkenal garang dalam mendidik, tetapi selain pintar mengajarkan materi, beliau juga mahir menghajar muridnya.

Tapi tak apalah..hasilnya bisa saya petik sekarang, kalau untuk sekedar berbincang2 dengan orang asing saya cukup bisa dan tidak perlu kursus yang khusus untuk sekedar bisa komunikasi dengan tamu bule.

Kalau ditarik ke dunia nyata khususnya di Indonesia ini,cerita tentang tikus sepertinya sedang berlangsung, para tikus berdasi itu sekarang sedang merajalela dan sang pemuda pemberantas tikus pun sekarang telah bermental tikus pula. Ironis memang…tapi itulah yang terjadi…mereka membuat malu korps pemberantas tikus.

Pintar dan bodoh sekarang bersatu menjadi konyol, apa tidak konyol jika seorang pejabat tinggi Negara ketangkap basah menerima uang, tapi di katakan sebagai uang bisnis permata? Apa tidak stupid jika di tengah krisis yang berakar di Indonesia ini, pemerintah memberikan hadiah berupa rumah senilai 20 milyar buat mantan presiden dan wakilnya [sudahkah hilang kepekaan mereka?]. Walaupun mengacu pada UU no 7 tahun 1978, tapi kenyataan nya kan? Pemaksaan untuk melaksanakannya berlawanan dengan amanat rakyat. Apa tidak puas dengan gaji dan perlengkapan yang wah saat masih menjabat sehingga di tambahkan lagi mendapat rumah senilai 20 milyar?.

Siapa sih yang yang kini betul2 punya kepekaan terhadap orang lain? Karena sekarang manusia sudah semakin egois dan selfis. Kita sering melihat reality show yang menghadirkan adegan menangis saat seorang kontestan di interview masalah pribadinya, dan audiens tampak bersedih sekali. Padahal kalau mau dilihat secara saklek, belum tentu mereka menangis karena betul2 terenyuh oleh kehidupan sang kontestan, bisa saja mereka menangis karena ikut2an melihat penonton yang lain menangis [munafik] .

Timbul dalam hati saya petanyaan seperti ini : Apakah ada yang menangis [secara ikhlas] saat melihat ribuan rumah di rendam luapan Lumpur lapindo? Adakah yang menangis saat melihat ribuan penduduk menyambung hidup hanya dengan memakan nasi aking? Dan adakah yang benar2 menangis saat melihat banyak anak2 yang lahir dengan bentuk yang aneh layaknya alien karena mereka kekurangan gizi? Adakah yang benar2 dengan ikhlas melihat semua ini?

Nah seandainya ada sedikit orang yang berpura2 sedih sambari menyerahkan ang pao, itu pun cuma 5 tahun sekali [sambari mengharapkan “sesuatu” dibaliknya] dan membangun pencitraan dibaliknya.

Itulah dunia politik kita sekarang ini…para calon banyak yang menggunakan jejak layaknya selebritis yang menggunakan jalur SMS untuk ke populerannya. Banyak yang terlihat sukses karena wajahnya sering nongol di tipi saat kompetisi berlangsung namun kembali jatuh ke kehidupan kelam saat kompetisi berakhir. Sialnya setelah beberapa bulan hidup sebagai selebritis namun mesti menjadi sele berek [baca: ketela busuk], karena sepi job untuk manggung. Karena tidak menutup kemungkinan saat kompetisi berlangsung mereka menjual harta bendanya dan pinjam sana sini untuk biaya pulsa.

[hal itu pun bisa terjadi saat kampanye pilgub bali nanti].

Apa gunanya saya bercerita tentang peniup seruling diatas? Kalau Cuma peniup seruling, seribu ataupun semilyar pun jumlahnya tak akan cukup, paling2 mereka diajak bikin mars “maju tak gentar membela yang bayar” oleh para tikus berdasi tersebut.

Sebagai salah satu contoh di jawa barat ada salah satu kontestan gubernur yang ingin menggantung koruptor jika terpilih nanti, tapi dia harus gigit jari, karena di kalahkan oleh tebar pesona calon lain yang lebih muda dan lebih selebritis [karena memang berasal dari golongan seleb]. Kita tunggu saja apakah nanti seniman macam Dolar, Petruk, Lolak, Cedil dan yang lainnya akan mencalonkan diri menjadi gubernur atau [sialnya] menjadi wakil sang gubernur? Kita tunggu saja karena mereka adalah SELEBRITIS di pulau dewata kita ini.