“Oldmall”

Sebulan lalu, saya baca artikel di Koran mengenai lahan hijau kota yang jauh dari cukup. Katanya, ini karena menjamurnya mal-mal di denpasar , yang kemudian dihubungkan juga ke hal-hal yang berkaitan dengan psikologi dan pendidikan anak. Katanya lagi, akibat jumlah mal lebih banyak dari lapangan atau taman, anak-anak jadi terbiasa main ke mal. Apa-apa maunya ke mal. Akhir pekan, habisnya di mal. Istilah ‘Anak Bangsa’ mungkin lambat laun berubah jadi ‘Anak Mal’.

Selesai membaca, saya menggeleng-geleng sendiri, merasa geli. Masalahnya, yang terjadi di ‘dunia’ saya berbeda. Biarpun saya belum punya anak dan masih menyandang status anak yang tinggal di rumah orang tua, di keluarga kami yang jadi ‘anak mal’ justru orang tua saya yang bisa dibilang sudah manula!

Mereka, sih, memang belum renta. Ibu masih aktif mengajar di kampus dan Bapak masih kuat nyetir sendiri. Tapi, setidaknya, mereka sudah dapat KTP seumur hidup dan kalau naik angkot bisa dapat diskon manula. Paham, dong, maksudnya? He…he…!

Nah, kembali ke pernyataan bahwa orang tua saya jadi ‘anak mal’, begini penjelasannya. Hampir seminggu 3 kali mereka mengunjungi mal, bukti-buktinya banyak dan jelas. Pertama, dari tagihan kartu kredit mereka yang kebetulan selalu saya terima sebagai pemegang kartu utama. Dari situ ketahuan, deh, ada banyak sekali transaksi, semuanya terjadi di mal. Bukti kedua, Bapak dan Ibu sering lebih tahu dari saya tentang toko yang baru dibuka, resto mana yang sudah tutup, dan merek apa yang sedang diskon! Bukti ketiga (ini paling seru!), saya ‘kumpulkan’ dengan terjun langsung ke lapangan alias menemani mereka ke mal di akhir pekan.

Memasuki area parkir, Bapak sudah bilang, “Valet saja, jam segini kita nggak bakal dapat tempat parkir! Kemarin aja hari kerja penuh semua.” [Hmm, kemariiin?]

Lalu kami turun, memasuki mal, dan wuuuzzz…keduanya sudah berpencar tanpa aba-aba! Ibu melangkah dengan yakin ke toko buku, sementara Bapak ke toko DVD. Saya ikut Bapak. Seorang pramuniaga yang melihat kedatangannya, langsung menyapa akrab. Bapak balas menyapa, lantas langsung asyik memilih DVD. Eh, jangan-jangan Bapak saya sudah dikenal seluruh pegawai.

Selesai di toko DVD, kami bergabung dengan Ibu menuju stand sebelah yang dihubungkan dengan lift. Sepanjang jalan, Ibu dan Bapak sibuk membahas mau makan di mana setelah belanja. Nama-nama resto dan kafe yang asing di telinga saya, mereka sebutkan dengan lancar sebagai perbandingan. Sesekali (tepatnya enam kali!) mereka berhenti karena bertemu teman dan berbasa-basi sedikit. Sementara saya, belum ketemu satu orang teman pun! O-oh, mata saya mulai panik mencari-cari. Masa iya, sih, di mal ini banyakan teman mereka daripada teman saya? Nggak mungkin, dong?

Tapi ternyata, mungkin! Karena, setelah saya perhatikan, banyak sekali manula di penjuru mal ini. Ada yang jalan perlahan di koridor, ada yang sibuk menggandeng cucu, ada yang sedang memilih-milih sepatu teplek (kata Ibu, “Nenek-nenek mana kuat pakai heels!”), sampai yang duduk asyik menikmati ice cream cone seperti anak kecil.

Saya berbisik kepada Ibu, “Kok,ini mal isinya jadi orang tua melulu, ya, Bu? Nati bisa-bisa disebut Malnula, dong?”

Ibu menjawab kalem, “Habis mau kemana lagi?”

“Ya , tapi di mal juga ngapaiin aja?”

“Bapak kan suka nyari DVD buat nonton di rumah. Daripada nonton di bioskop, dingin dan teksnya cepat banget! Terus dia paling sering ke toko perkakas atau cari cardigan di butik favorit kamu yang dari Spanyol itu. Padahal, itu butik kalau lagi sale kan ngantrinya gila-gilaan! Ibu, sih, malas ke sana.”

“Jadi, Ibu ke mana, dong?”

“Kalau Ibu, ya, belanja mingguan di supermarket, cari makanan yang hangat-hangat berkuah dan senang aja lihat orang ramai-ramai. Daripada di rumah, sepi. Kamu pulang kerjanya malam betul, sih!”

“Ah, semuanya alasan manula, deh! Pantas sekarang tukang pijit juga masuk mal.”

Ibu ikut terkekeh geli mandengar komentar saya. Sementara itu, Bapak tampak mulai ngobrol dengan seorang teman yang sedang menggendong cucu.

“Ibu, ke mal biar bisa ‘mamerin’ cucu kayak gitu kan maksudnya?”

“Ya! Kecuali kalau kayak Ibu dan Bapak, yang belum punya cucu karena kamu masih pacaran aja!”

Ups! Sudah. Sekian. Selesai. Soal Malnula, kini sudah jelas terbukti, dan pernyataan Ibu tadi merupakan alasan kuat saya untuk menjauh dan tidak bertanya lagi.