Omong Kosong

“Bangsa ini penuh dengan omong kosong” umpat Pan Lumbang dengan sinisnya.

“Ketika banyak orang tak mampu membeli sembako, justru barang mewah yang membanjiri negeri ini kian laris, antrean orang beli minyak tanah, BBM dan raskin seakan 2 menjadi pemandangan yang lumrah. Diimbangi dibangunnya banyak supermarket, mall, café, dan SPBU. Konversi minyak tanah ke gas di kumandangkan, tetapi suplainya tersendat2 dan minyak tanah seakan menghilang, istriku semakin menjerit karena ndak bisa memasak bahan makanan yang bisa terbeli dengan susah payah. Namun di televisi hampir tiap hari wajah Eko “F*ck’n” Patrio terlihat membagi- bagikan uang jutaan rupiah. Bencana akibat ulah manusia dan alam seakan tidak pernah capek mendera bangsa kita, namun hura2 dan pesta pora juga seakan tidak pernah berhenti di negeri ini, apalagi kalau sudah bertitel IDOL2 an dan BINTANG2 an…pasti LARIS MANIS…” cerocos Pan Lumbang tiada henti.

“Inilah dampak dari penjajahan model baru yang bernama KAPITALIS EKONOMI, dimana produk di buat bukan lagi berdasarkan hukum permintaan dan penawaran, melainkan berdasarkan produksi sebanyak2nya dan harus terjual habis tanpa boleh ada sisa. Kita sebagai manusia di tuntut untuk membakar, mengkonsumsi, di buang, diganti, dan mencampakkan. Agar kepuasan lahiriah dan batiniah kita terpenuhi. Itulah tujuan sebenarnya dari penjajahan model baru ini” sahut Rincug tak kalah sengitnya.

Pan Lumbang hanya melongo kebingungan, Rincug yang hanya tamatan SR dulu, ternyata fasih bicara tentang kapitalis dan segala tetek bengeknya itu.

“Eit…hebat Rincug sekarang sudah bisa menjelaskan tentang KAPITALIS EKONOMI, pasti ini dampak dari pergaulan kamu dengan tim suksesnya Pak Geblur saat kampanye pil kades dulu yah?” tanya Pan Sari ke heranan

Yang ditanya malah diam saja…tanpa respon apa2, memang Rincug adalah politisi dadakan di kampung itu…politisi karbitan yang siap membela yang bayar tanpa memikirkan dari mana asal uang yang di gunakan untuk membayarnya, dan tentunya tidak memikirkan apakah itu gratis atau tidak.

“ Ada lagi yang aneh dengan Indonesia ini, usahawan di undang di berbagai kesempatan, namun kriminalitas semakin menggila, bahkan para ikus berdasi pun seakan2 semakin siap denagan mars “ MAJU TAK GENTAR MEMBELA YANG BAYAR”… teriakan kearifan local semakin aneh terdengar di tengah banyaknya lahan berpindah tangan ke orang asing. Di tengah sulitnya membiayai aparatur pemerintahan, pilkada yang di beri cap sebagai pesta demokrasi di gelar setiap hari.padahal pendanaannya sering kali berasal dari utang, hebat kan? Uang di hambur2kan buat pesta berbalutkan demokrasi sedangkan rakyat kecil semakin menangis….” Kata Pan Lengis.

“ Tiap tahun utang negeri ini konon semakin bertambah… para pemimpin dan calon pemimpin seakan2 tidak mau perduli, warisan apa yang bakal di serahkan ke anak cucu nanti, apa cuman timbunan utang dan dan alam yang telah terkuras serta bisikan AYAT AYAT CINTA? Kita jadi ngeri membayangkannya” papar Rincug

“Kita? Elu aja kali, gue ng’gak!!!! Buat apa capek2 memikirkannya…aku nikmati saja kemiskinan ku ini, merespon pertanyaan mu tentang ‘warisan buat generasi yang akan datang’ aku ndak perlu ngeri aku bilang saja ada di pilem “KIAMAT SUDAH DEKAT “ ndak heran kalau bioskop kini di jejali pejabat yang mau mereparasi mental [katanya] “ sergah Manik, yang memang agak sentiment pribadi dengan Rincug sejak jagoannya kalah dalam Pilkades dulu.

“ Mendengar ocehan kalian, di dalam hatiku jadi muncul tanda tanya yang kian membesar dan terus membesar, sekarang semua itu mungkin tidak menjadi kenyataan, namun beberapa tahun kedepan mungkin saja. Hal ini berdasarkan apa yang terjadi belakangan ini. Di tengah merosotnya rasa nasionalisme, lupa akan sejarah dan meningkatnya budaya selfish. Juga sikap masa bodoh yang di tunjukkan oleh Manik [yang tentunya bukan cuman manik yang seperti itu, tapi banyak sekali] mereka terlalu lama di biarkan untuk mengurus masalah sendiri, tiada tempat untuk mengadu, malah Negara yang di jadikan tempat berkeluh kesah seakan2 menghilang tanpa jejak dan absent saat di butuhkan. Bila kaum seperti mereka menjadi mayoritas, mungkin nanti Indonesia yang bersatu akan menjadi terpecah pecah karena kemalasan kaum mudanya untuk mengurusi masalah Negara. Tadi sempat pula aku dengar tentang keprihatinan tentang terkurasnya uang Negara akibat pesta demokrasi…benar kan? Aku punya usul gimana kalau para politisi di rekrut dengan cara OUTSOURCING ? kesempatan di buka buat siapa saja asalkan bisa memiliki modal sebanyak US$ 5 milyar dan uang yang telah di setor ke pemerintah sebagai jaminan tidak bisa diminta kembali oleh para calon yang gagal. Para mantan presiden, mantan gubernur, mantan bupati dan mantan kepala desa dari Negara lain [yang telah sukses di negaranya] boleh melamar. Sekarang khayalanku terkesan OMONG KOSONG namun pasti akan terjadi kalau negeri ini di penuhi oleh kaum APATIS “ ceramah Pan Lumbang penuh makna.

Senja semakin gelap dan akhirnya matahari pun berganti dengan indahnya sinar rembulan yang senantiasa menerangi di setiap sudut malam…bersamaan dengan itu bubar juga debat terbuka antara mereka dan mereka kembali ke pelukan istri masing2, kembali ke permasalahan rumah tangga mereka, kembali ke kehidupan nyata dan melupakan kesengsaraan mereka di tengah Negara [yang katanya] merdeka ini……