Cerita tentang terasi….

Saat ini jam di kamar saya sudah berdentang dua belas kali dan mata ini belum ada tanda2 untuk terpejam, saya teringat akan kejadian yang udah lapuk jaman dulu. Jaman di mana saya masih imut2nya:mrgreen: , jaman di mana belum sebagian besar denpasar ini di sinari lampu neon sebagai penerangnya.

Yah…saat itu sekitar tahun 86’an. Di suatu senja [menuju malam] yang indah, saya bersama teman2 dan saudara2 [yang masih kecil2 dan imut2 tentunya] pergi untuk memancing belut di sawah yang dulu banyak bertebaran di sekitar tempat tinggal saya. Sawah jaman dulu masih menggunakan pupuk kompos dan pupuk kandang sebagai pupuknya dan belum menggunakan pestisida seperti sekarang ini. Dengan senjata seperti pancing, cobek dan terasi, kami pun dengan semangat melakukan ritual pencarian belut, dan hasilnya pun lumayan banyak. Sekitar jam 20.00 an sudah ada sekitar 3 kiloan kita mendapatkan hasil tangkapan.

Serasa sudah cukup banyak hasil tangkapan yang di peroleh, kami pun mulai menyalakan api, semak2 yang di kumpulkan tadi kami sulap menjadi kompor sederhana buat memasak sang belut yang tampak udah ndak bernyawa dan tentunya juga buat memasak terasi.

Belut bakar kami santap dengan lahap sekali [kebetulan ada teman yang sangat pintar memasak sambal terasi] semakin lengkaplah pesta kita buat mengusir malam yang dingin. Belut bakar pun habis tak tersisa. Tak terasa nyala api unggun semakin meredup dan saya mencoba unuk menambahkan ranting dan jerami agar nyala api semakin membesar.

Entah mengapa, mata ini tertuju pada seongok terasi yang di bawa teman tadi, saya pun mengernyitkan dahi keheranan.

“Kok terasinya masih utuh? Padahal sepertinya tadi sudah habis dipakai buat sambal” gumam saya, [saya pikir teman saya membawa banyak terasi dan mengira itu sisanya]

“Ndak kok terasinya sudah habis, tak tersisa, habis belutnya banyak sih dan juga cabenya juga banyak, jadinya biar ndak terlalu terasa pedas… ya udah aku habisin saja terasinya lagian buat apa bawa terasi pulang? “ jawab bli gede [si koki dadakan] menegaskan.

“Tapi kok itu masih banyak “ tanya saya keheranan.

Teman2 pun hening sejenak sambil melihat bungkusan mungil yang tergeletak di sebelah alat pancingan. Dan selidik punya selidik ternyata sambal yang kami buat ternyata bukan berasal dari terasi yang kami bawa melainkan dari [maaf] kotoran bebek yang ikut terpanggang tadi. Kontan saja semua tertawa terbahak2, apalagi ingat saat makan tadi ada yang makan sambalnya sampai nambah… wa..ka..ka…😆

Akan tetapi kalau di pikir2 ternyata anak kecil2 dulu ternyata kuat2 yah? Bayangin makan kotoran bebek panggang ndak ada yang sakit, coba sekarang, orang tua terlalu memproteksi anak2 dengan berbagai aturan, jangan makan inilah… jangan makan itulah… tapi hasilnya anak mereka gampang sakit2an. Mungkin ini salah satu dampak kemajuan jaman yah… dimana sekarang sudah ndak ada yang alami, semuanya karbitan, lihat saja sawah2 ndak ada yang menggunakan pupuk alami, semua sudah menghalalkan pestisida. Dan belum tentu itu ndak ada pengaruhnya buat tubuh kita. Ndak salah kan kalau saya mengatakan semuanya sekarang serba karbitan, mulai dari makanan, manusia, politisi, dan bahkan artis pun sekarang banyak yang karbitan. Instant. 😦

Ya udah lah… setelah mosting yang ini saya mau jalan2 dulu, kali aja dengan kena angin malam mata ini bisa ngantuk, atau mau ke circle K buat beli beer dingin siapa tahu ketemu ama teman2 sesama kalong, atau malahan pergi ke warnet buat blogg walking? Ndak tahulah…. 🙂 🙂

Yang jelas mata ini ndak mau terpejam.