Habis Manis Sepah Dibuang…

Dosen saya pernah bercanda dengan saya, bahwa dulu, saat membuat pulau Bali, Tuhan pasti sedang santai dan lagi seneng2nya, sehingga daerah yang namanya Bali ini sangat indah dan mempesona banyak kalangan. Seloroh yang sama juga acap kali saya dengar saat mengikuti seminar di forum2 pariwisata, dan semakin banggalah kita akan pulau yang namanya BALI ini. Apalagi kalau kita bandingkan dengan daerah tujuan wisata lainnya di nusantara bahkan dunia, bali lebih terkenal dan menjadi merek dagang yang paling top.

Sebagai sebuah destinasi tujuan pariwisata, Bali memiliki keunggulan komperatif, sebagai diakui selama ini, Bali memiliki posisi tersendiri. Tidak ada duplikatnya dimanapun di jagat ini. Keragaman objek wisata, keramah tamahan penduduknya, serta adat istiadatnya, terpadu menjadi satu kesatuan yang sangat harmonis sekali.

Ketika membaca tulisan diatas mungkin teman2 ada yang nyeletuk :

“Ah…gombal…pesona Bali telah menjadi masa lalu… dan menjadi nostalgia saja…” 👿

Sederet ungkapan sinis pun mungkin akan menyembul, bali bukan lagi pulau seribu pura, tapi pulau seribu ruko, Bali pulau maksiat dan sebagainya…. [sebenarnya saya marah kalau di bilang Bali itu pulau maksiat, kalau memang begitu, kenapa partai tertentu mau mengadakan munaslubnya di pulau kami? <partai maksiat dunk namanya?>…. He..he..he… Dan kenapa pulau kami di jadikan tolak ukur keamanan Indonesia?] 🙄

Ini semua, [walau tidak sepenuhnya benar], bila terus di hembuskan secara terus menerus [dan kemudian di percaya] maka ini bisa meredupkan pesona indah pulau Bali sendiri.

Munculnya penilaian miring terhadap kekinian Bali, lebih merupakan efek negative dari perkembangan pariwisata yang terjadi di luar kendali masyarakat Bali sendiri. Demi memburu dolar, semua orang lupa bahwa pesona alam di Bali tak lebih hanya titipan dari warisan yang harus di jaga dan di rawat. [Anak cucu kita juga memiliki hak yang sama dengan apa yang kita rasakan sekarang ini]. Kini banyak pemerhati budaya yang mulai menghawatirkan masa depan objek wisata di Bali. Objek wisata di Bali kerap hanya di jadikan domplengan dan batu pijakan. Namun aspek pemeliharaannya kerap kali di abaikan. Kalau kecenderungan ini tidak di stop, Bali akan kehilangan jati dirinya sebagai daerah tujuan wisata.

Peringatan seperti ini harus di gubris dan jangan dianggap angin lalu. Terutama oleh praktisi pariwisata di daerah. Objek wisata baik itu merupakan tempat suci, bentangan alam dan peninggalan sejarah merupakan hal yang tidak bisa di perbaharui lagi, karena itu struktur fisiknya harus di lindungi. Menurut data yang saya baca [tepatnya sih ngintip]😉 dari teman yang kerja di dinas pariwisata Bali bahwa tampak jelas ada beberapa objek pariwisata mengalami penurunan drastis dalam segi kunjungan. Ambil saja contoh : Pura Besakih, Air Terjun Git git, Alas Kedaton dan Pura Puncak Penulisan. Yang dulu merupakan top search dalam kunjungan. Namun belakangan ini nampak sepi dan kurang diminati.

Penyebab turunnya kunjungan wisatawan memang bisa dari berbagai hal, namun salah satunya ialah kualitas dan proses pengelolaannya. Di Bali dikenal tiga lembaga yang mengelola pariwisata yaitu Pemerintah, Swasta dan Komunitas blogg [eh salah]…..😆 Komunitas Adat [ini yang bener]. Ketiga pihak tersebut mempunyai otoritas masing2 dalam mengelola dan mengatur segala sesuatu yang menyangkut objek yang dikelolanya. Namun belakangan muncul kesan yang sangat memprihatinkan yaitu mengedepankan pendapatan dan me masa bodokan keselamatan dan perlindungan objek wisatanya. Benernya sih [kalau menurut saya] ketiga lembaga tersebut harus saling terkait dalam membina serta mengawasi kinerja staffnya masing2. Peran desa adat sangat diperlukan dalam pengelolaannya namun peran pemerintah dan swasta serta adanya keterlibatan dari pihak kampus juga sangat di butuhkan, sehinggaa tercipta sinergi yang saling menguntungkan. Kasarnya ideology macam ini “siapa dapat berapa” berubah menjadi “siapa berbuat apa” untuk objek wisata tersebut. Hanya dengan itulah ke eksis an Bali menjadi daerah pariwisata dapat di pertahankan.

*postingan ini saya tulis berdasarkan keprihatinan saya

Akan banyaknya tempat wisata yang terbengkalai…

Kalau begini terus, kapan Bali benar2 bisa Ajeg???