Perlukah Blogg Di Hak Patenkan?

Siapa pencipta barong pertama di bali? siapa yang menciptakan topeng rangda? siapa yang membuat ukir2an patra pertama di bali? siapa yang membuat wayang kamasan pertama di bali? siapa yang menenun kain endek untuk kali pertama di bali?

Ayo…ayo siapa yang bisa menjawab pertanyaan itu pak guru kasih permen…”

Ha..ha..ha… sampai sekarang kalau ada pertanyaan seperti itu pasti sebagian besar orang [yang mengaku] bali bakalan kebingungan dan menjawab “NAK MULE KETO” alias memang seperti itu adanya… karena sebagian besar dari pertanyaan di atas memang tidak ada jawaban pastinya. Bukan maksud hati ingin menyombong tapi anekdot di bali yang selalu mengatakan “EDE NGADEN AWAK BISA, DEPANG ANAKE NGADANIN” yang terjemahan bebasnya seperti ini “JANGAN SOMBONG BIARKAN ORANG YANG MENILAI”, sangat kental dan sangat merasuk kedalam sanubari masyarakat bali. Karena orang bali akan berpikir seribu kali dalam melakukan sesuatu, saking sibuknya berpikir, mereka tidak sadar bahwa hasil karya mereka di hak patenkan oleh orang lain.

Ironis memang sudah puluhan tahun para perajin perak di desa celuk sukawati membuat barang kerajinan seperti itu, namun tiba2 ada wisatawan yang datang dan mengakui bahwa barang tersebut merupakan hak miliknya, lalu melaporkan kepada polisi. Polisi yang berpegangan dengan “surat hak paten” milik si wisatawan tidak bisa berbuat banyak, selain karena memang ada surat sakti, pastinya sang wisatawan berani membayar lebih kepada polisi. Nah apa lagi kalau sudah sampai di meja pengadilan, mafia macam jaksa urip dan ayin pastinya siap mencaplok mereka.👿

Mungkin kesalahan itu tidak mutlak ada di tangan si wisatawan maling tersebut, namun ada di pihak orang bali sendiri, yang tidak berinisiatip membuat hak paten atas karya mereka dan karya para leluhur mereka. Mungkin karena takut dianggap berani akan leluhur dan ujung2nya bakalan di sepekang [dikucilkan] oleh masyarakat. Maka jarang ada masyarakat perajin golongan tradisional yang mempatenkan hak cipta mereka. Ambil saja contoh konyol seperti ini, kalau ada masyarakat bali yang berani mempatenkan tarian barong sebagai milik dan karya cipta mereka, maka dapat di garansikan bahwa se umur hidupnya si seniman tersebut bakalan di incar dan di ancam oleh para penari barong di singapadu dan batu bulan. Ada satu ketakutan lagi oleh saya, suatu saat ada wisatawan yang mempatenkan agama hindu terus melaporkan kita sebagai pencuri karena telah memakai simbol2nya tanpa persetujuan si pemilik, kita mesti ngomong apa? karena di mata hukum kita pasti salah dan pasti kalah di pengadilan. Garansi 100%.

Mungkin disinilah peran dari pemerintah yang mestinya harus berani membentengi para perajin, dan membantu mengurus perijinan serta hak paten dari karya mereka, sehingga kejadian seperti dengan Malaysia tidak terulang lagi. Dan kalau bisa pengurusan hak cipta tersebut bebas dari biaya, karena tidak bisa kita pungkiri, kehidupan seniman di bali tidak semua ada di atas garis kemakmuran, dan bahkan tidak mungkin, biaya untuk makan sehari2 saja mesti bingung, boro2 mikirin biaya hak paten.

Jangan sampai deh nanti canang sari dan pretima kita di patenkan oleh orang lain, dan buat dinas yang berwenang dalam mengeluarkan “hak paten” dan tidak sengaja nyangkut terus tertarik membaca postingan saya ini, pikirin dikit deh… entar kalau semua yang ada di Indonesia khususnya bali ini dipatenkan orang lain gimana? “Apa kata dunia” 😆😆

Nah berhubung dengan itu, blog aneh ini perlu saya hak patenkan ndak yah? [sok blog seleb aja]😳 entar takutnya ada orang yang mengaku menggunakan istilah “LUNATICK SITE” dan melaporkan saya ke polisi, terus saya di jemput paksa, terus saya di sidang, terus saya di hak patenkan karena saya cakep😯 , he..he..he….  😎