PENGUCILAN [kenyataan dan realita]

Sanksi pengucilan ada di berbagai bangsa dan Negara, baik maju maupun primitive. Barusan saya membaca suatu epos yunani yang menceritakan tentang seorang pemuda yang di kucilkan karena tubuhnya berbau busuk. Namu ironisnya di akhir cerita si pemuda busuk lah yang menjadi orang yang paling di cari oleh negaranya karena kepiawaiannya membuat senjata dan di takdirkan untuk menyelamatkan bangsanya. Begitulah sesuatu yang busuk dan kotor sangat tidak di sukai namun berbeda dengan WC, tempat yang sangat bau dan kotor, tidak di senangi namun di perlukan buat keseimbangan dunia.

Namun itu cuman di cerita saja, di kehidupan nyata seseorang yang telah terkena sangsi pengucilan akan sangat merasa sulit untuk kembali kehidupannya yang seperti semula. Dalam kasus pengucilan yang terjadi di pulau dewata, korban selalu merasa tidak berdaya atas kesalahan yang di tudingkan kepada mereka. Sementara desa adat yang mengucilkan mereka telah sangat di berdayakan. Kekuasaannya seakan melebihi kekuasaan sebuah Negara. Karena belakangan ini desa adat di puji2 sebagai sebuah suatu republic kecil. Hubungan desa adat yang berdaya dengan korban yang tidak berdaya jelas amat dan sangat tidak berimbang. Terbukti dalam sebuah kasus desa adat, belum pernah terdengar ada korban yang membangun kekuatan dan kembali ke desa sebagai pemenang. Cerita seperti itu hanya ada di dalam dongeng pengantar tidur, dalam kenyataan di bali, korban pengucilan harus minta maaf atas kekalahan yang mereka derita. Kalau tidak, mereka akan mati pelan2 atau mati mendadak. Kebiasaan manusia memang begitu. dimanapun tidak ada pemenang yang minta maaf kepada yang kalah…