Baliku sayang Baliku malang…

Kekerasan yang melibatkan orang bali sekarang ini cenderung meningkat (Bali Post 12 agustus 2008). Sepertinya anggapan orang bali yang ramah dan menjunjung musyawarah mufakat telah menjadi kenangan terindah jaman dulu. Terbukti peningkatan jumlah kasus adat yang mencuat kepermukaan menjadikan indikasi bahwa konflik itu tidak pernah padam di pulau seribu pura ini. Dan sayang nya dalam tata cara penyelesaiannya, masyarakat bali ”kini” cenderung mengandalkan kekuatan otot dan massa.

Hampir tiap hari kita bisa baca di Koran bahwa ada saja yang berita tentang pertempuran antara dua desa di bali dan permasalahannya pun cukup sama dari dulu-dulu, kalau bukan karena perebutan tapal batas desa pastilah karena rebutan kuburan. Dan lucunya lagi dijaman sekarang ini masih saja ada orang bali yang saling bunuh antar saudaranya karena rebutan tanah warisan. Gara2nya juga lantaran ada satu pihak yang menghendaki menjual lahan warisan dan ada satu pihak yang menentang penjualan tanah warisan tersebut… dan karena keterbatasan kosa kata untuk berdebat maka diambillah jalan pintas yaitu membunuh.

Dan trend semakin memberingasnya orang bali bahkan sempat menjadi sorotan oleh menteri dalam negeri kita di pidato sambutan HUT propinsi Bali yang ke 49 tahun lalu, oh sungguh ironis memang di tengah berbagai julukan yang meng Agungkan bali dengan keharmonisannya. Suatu keanehan yang dapat saya tangkap oleh para orang bali, mereka sangat suka di puji dan sangat menghormati bahkan cenderung takut dengan orang lain yang bukan orang bali, namun akan sangat mudah tersinggung apabila berkonflik dengan orang sesama orang bali.

Di luar kasus adat yang mendera propinsi ini, masalah pencurian pretima [benda sakral] sangat sering terjadi. Bahkan belakangan ini trend pencurinya bukan berasal dari orang luar bali melainkan dari orang bali sendiri. Kenyataan apa ini? Bahkan dalam kasus judi yang belakangan merebak seperti tajen [sabungan ayam], cekian, domino. Pelakunya kebanyakan orang bali sendiri. Saya jadi ingat ucapan pak mangku pastika saat beliau menjabat menjadi kapolda di bali beberapa tahun yang lalu, “dulu saat saya berkunjung ke LP kerobokan pada tahun 50 an sangat jarang saya menjumpai orang bali di dalam tahanan, namun sekarang saat saya mengecek nama tahanan yang menghuni LP ini, saya sangat terkejut karena lidah saya beberapa kali mengucapkan nama IMade, I Ketut, I Wayan, Ida bagus, Anak agung… apakah orang bali kini sangat mudah menjadi penjahat?” begitulah kira2 kata gubernur [yang akan dilantik] sekarang ini. Tak hanya itu sekarang remaja bali telah mulai merambah dunia hiburan malam. Sejumlah remaja putri di bali bahkan sempat berurusan oleh polisi lantaran hubungan badan yang mereka rekam telah merebak di ponsel2 masyarakat. Dan berita terbaru dari salah satu teman saya, belakangan dengan berjanji akan membelikan Hp Nokia seri paling terbaru maka kita akan mendapatkan gadis yang masih perawan yang rela kita ajak tidur bareng. Hebatkan ?! keperawanan sekarang seharga Hp baru😕

Begitulah realita yang terjadi di masyarakat bali kita ini, kita masayarakat yang telah terlalu lama hidup di balik kebohongan slogan2 yang membesarkan bali namun merapuhkan bali dari dalam. Semoga di hari ulang tahun bali yang ke 50 ini, masyarakatnya semakin bisa untuk saling menghormati dan mengasihi antar sesama manusia bali sendiri. Janganlah slogan ajeg bali kita rubah menjadi ajeng bali. Dan semoga di hari raya galungan dan kuningan ini kita bisa tambah berintrospeksi diri, dan tetap berkeyakinan bahwa ida sang hyang widhi wasa tidak akan pernah bosan melimpahkan rahmatnya kepada kita….