Nikah….

Entah sudah berapa kali saya menghadiri upacara pernikahan yang mewah, di gedung mewah, pakaian bagus, perhiasan mahal di tubuh sudah menjadi pemandangan yang lumrah di acara tersebut. Pokoknya keadaan sepertinya melebihi di istana jaman majapahit [he..he.. padahal jaman majapahit gue belum lahir😆 ]

Bagi orang yang punya dan mampu, bagaimana mungkin pernikahan anak2nya tidak dilakukan secara meriah dan bergema? Karena bagi mereka pernikahan merupakan salah satu pencitraan keluarga di mata khalayak ramai. Perpaduan insan mempelai dapat di ibaratkan pertemuan dua butir salju di dalam kelopak mawar, sungguh indah dan sungguh menakjubkan. Mungkin tepat sekali kalau di meriahkan karena mungkin menikah cuman sekali dalam seumur hidup [kalau bagi kaum kaum poligami lain he..he… menikah bisa kapan aja dan dimana aja😆 ] dan mungkin juga pernikahan yang wah juga sebagai wujud terima kasih kepada tuhan dan sekaligus sebagai pengumuman bahwa si Dana dan si Dini telah sah sebagai pasangan suami istri. Menghadiri acara seperti itu tentu membuat saya juga berdoa bahwa si mempelai akan hidup bahagia selamanya sesuai janji yang mereka berdua ucapkan.

Itulah seklumit pengalaman yang ingin saya utarakan saat mengadiri upacara pernikahan sahabat, putra seorang terpandang di kota Denpasar ini. Namun bukan hanya pernikahan yang wah saja yang pernah saya hadiri, pada saat yang lain saya juga sempat menghadiri pernikahan kenalan di kampung.

Mempelai wanitanya adalah seorang petani yang biasa menyabit padi di sawah, sedangkan sang mempelai pria adalah seorang penarik ojek di kota Denpasar.

Saat itu sang mempelai pria memakai kemeja, kamben dan udeng [destar/ikat kepala]. Tidak ada jas, dan keris sebagai perlambang kejantanan. Ia hanya menggunakan pakaian layaknya orang akan bersembahyang ke pura saat odalan [hari suci], sedangkan pengantin wanitanya memakai baju kebaya, kamben dan sedikit bunga di rambutnya. Tidak ada riasan yang wah seperti Bunga Citra Lestari pada waktu akad nikahnya, tidak ada lipstick dan potlot alis, kecuali usapan bedak yang sangat tipis. Tidak ada kemewahan dan keceriaan. Namun detik2 yang berjalan sangat khidmat dan sunguh amat mengharukan serta sangat sakral. Saya sadar saya sedang menyaksikan penikahan sepasang mempelai miskin, tanpa sadar airmata saya meleleh di dalam hati sanubari saya.

Ketika janji pernikahan di ucapkan dan dilanjutkan dengan natab banten [prosesi upacara pernikahan dengan sembahyang memohon doa restu pada tuhan, leluhur dan alam semesta] saya sepertinya mendengar bahwa kedua mempelai sedang bersumpah setia kepada pasangan masing2 untuk selalu tegar dalam menjalani kehidupan dan meyakinkan bahwa di dalam kemiskinan dan serba kekurangan seperti itu, tidak akan ada halangan dalam dirinya untuk maju dalam mewujudkan cinta menjadi sebentuk kenyataan dalam kehidupan.

Pulang dari upacara pernikahan yang mengharukan tersebut, saya bayangkan kedua mempelai menikmati madu cinta mereka tanpa pesta dan kemeriahan. Mereka akan tetap berjuang dalam mengatasi penderitaannya. Mereka memutuskan untuk menikah karena mereka yakin dengan cinta masing2 dan ingin menikmati kehidupan seperti orang yang hidup berkecukupan.

Pasangan mempelai miskin mungkin bukan hanya yang saya saksikan ini, dan mungkin jutaan dan bahkan puluhan juta pasangan yang menikah tanpa pesta dan kemewahan, karena mereka memang tidak mampu, akan tetapi karena mereka hidup di bumi Indonesia, makan tanaman di Indonesia, minum air yang mengalir di Indonesia maka mereka tentu juga saudara kita.

And the question is : adakah rasa persaudaraan yang tulus dengan mereka?

Kalau memang ada bagaimana bentuk nyatanya?

Pernyataan di atas sepertinya sudah pantas menjadi renungan dalam diri kita masing2 dan apakah pemikiran bodoh saya salah? Barangkali kita perlu spirit kepahlawanan dalam bentuk yang segar. Kita memerlukan penataan dan pembangunan budi pekerti yang mengutamakan kebersamaan. Karena rasa kebangsaan yang matang ialah rasa senasib dan sepenanggungan dalam bentuk tindakan nyata. Selamat hari pahlawan…merdeka.